Pages

Showing posts with label ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ceritaku. Show all posts

Tuesday, December 31, 2013

POEM : In memory of her

Setelah lama nggak nulis di blog-ku tersayang, di akhir tahun ini aku mau nulis sebuah....

PUISI.

Well, bukan puisiku sich, tapi puisi my mom yang dibikin dari jaman baheula, sebelum aku lahir. This is it.....

Seiring desahnya hatiku
Aku tarikan ujung penaku
Bersama desahan lembut dari hatimu
engkau memikat hatiku
aku tak tahu
mengapa sekarang ini
aku merasa kehilangan
aku ingin mencarimu bersamamu
tetaspi ketika aku sadar
betapa jauhnya kau dan aku
telah lama aku menunggu kedatanganmu
selalu aku ingin bersamamu
seperti dalam impianku
kita bersama dan berdua
di taman belantara dan bunga
seiring sejalan dan setujuan
dalam kasih dan sayang

 Puisi tanpa judul. Aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Apakah hanya sebuah karya saja atau ada cerita di baliknya. Tapi lumayan buat ditulis daripada membiarkan blogku jadi sarang laba-laba.

XOXO
Read more...

Thursday, May 16, 2013

Wedding Party


Tulisan ini kubuat dini hari, beberapa jam setelah pesawatku mendarat dengan selamat dari Cengkareng ke Juanda. Cukup letih, tapi kantuk belum mampu memaksaku untuk berpaling dari monitor. Why?
#1st reason, tadi siang abis meeting sempet tidur.
#2nd reason, watektu di pesawat tidur juga. :D:D:D:D:D

Well guys, setelah membiarkan blog-ku mati suri dalam definisi sebenarnya tanpa hiperbolis, akhirnya tulisanku ngeksis lagi di blog. YAY!!!\^o^/ - penting gak seech?- . Somehow, aku nggak berencana nulis seputar agenda meeting, cerita tentang pekerjaan, perjalanan, dan teman-temannya. This story about married. I mean.... Wedding Party. #Was that Lintang? That’s big No, No!!! ^o^

This is a story about my friend. Well, is it story? Whatever the name. Jadi, sebagai informasi, waktu aku menulis tulisan ini, umurku belum genap 22 tahun. Anggap saja 21 tahun biar awet muda. 

Katakan aku salah. Aku merasa waktu berjalan begitu cepat. Apakah waktu bisa berlari? Sepertinya belum lama aku masuk kuliah. Namun, begitu cepat aku lulus. Dan, sepertinya baru kemarin aku ke Jakarta. Ternyata sudah hampir sepuluh bulan berlalu. AKu bahkan sudah lima bulan di Surabaya. Seperti baru kemarin aku dan teman-temanku ngopi sampai lewat tengah malam –dulu aku lumayan bandel Cuma gak ada yang nyadar :-D. Sekarang aku dan teman – temanku bertemu di sebuah cafe, tapi bukan untuk ngopi. Tapi menghadiri resepsi pernikahan teman sekelasku waktu di kampus dulu. #logic thinking : sekelas = seumuran.

Ada seberkas kesedihan dalam hatiku waktu itu. Bukan karena aku tidak mau berbahagia di hari pernikahan seorang teman, tapi aku tiba-tiba tersadar bahwa umur sudah semakin bertambah. Dan pertambahan umur berbanding lurus dengan perubahan fase hidup dan lingkungan manusia.
BTW kenapa aku jadi ngelantur ya? Well guys, sebaiknya langsung aja aku tempelin foto-foto yang sempat aku dapat di resepsinya.

The Girls with The Bride (Dinda) and The Groom (Bagus).
I wanted to make the size larger, but the saving always failed. :(

The Boys with The Bride and The Groom
Ketemuan adalah cara untuk narsis bareng. (I love my friends)

Aku & Cewek - cewek.... Miss you gals :-*
 Satu hal yang paling bikin aku pengen hadir di resepsi temanku Dinda, selain aku bisa ketemu Dinda dalam versi feminin, aku juga bisa ketemu cewek-cewek. Kalau ingat jaman jadul tapi gak jadul banget (jaman kuliah) raasnya pengen banget ngulang masa-masa itu. Masa-masa bisa ketawa - ketiwi bareng, ngomongin katalog mesin sampai katalog kosmetik, dll. T_T
Sebenarnya ada berbagai alasan yang membuat aku sedih, meski harusnya aku gembira. The Bride.... adalah  orang yang pernah aku ajak muter-muter surabaya waktu aku masih maba, baren-bareng selama OJT, terus tiba-tiba lama gak ketemu, dan tau-tau dia udah jadi istri. Well, when the fate comes indeed we have to face it. Somehow, I think this is what I want to write. Just a little not too much. Good night all...


Read more...

Saturday, October 27, 2012

Idul Adha, Sebuah cerita

Posting di bawah ini aku buat pada malam takbir sebelum Idhul Adha, tanggal 25 Oktober 2012. Tapi, sebelum sempat aku selesaikan, tiba-tiba ada klien datang dan ngajak rapat. Bayangin, jam 19.00 WIB ngajak rapat. Mudah-mudahan mereka besoknya lebaran. So, let's read my late posting bellow:




Ini tulisanku setelah lama banget nggak online, bikin blog jadi sarang nyamuk dalam kondisi mati suri tapi entah kenapa viewernya nambah terus. Ngomong-ngomong, besok adalah Hari Raya Idul Adha. Ngomong-ngomong tentang Idul Adha, aku nemu sebuah artikel:
Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.
Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.
Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.
Gambarnya dari sini

Jadi, besok Idul Adha. Kalau menurut info yang kudapat, kalau di daerah Madura Idul Adha lebih ramai daripada Idul Fitri. Bener ato gak, entahlah. Aku nggak pernah kesana. Intinya, pasti banyak orang yang mempersiapkan diri dari malam sebelumnya untuk Idul Adha besok. BTW....Apa jadwal Lebaran kamu? Dan apa pula jadwal ‘Iedul Adha kamu? Dari berbagai jawaban yang mungkin kamu sampaikan, aku tidak yakin kalau menghabiskan malam takbir di kantor adalah salah satunya. Well Guys, mungkin aku belum pernah bercerita tentang pekerjaanku. Soalnya, aku belum berminat untuk cerita gitu. Intinya, aku hampir tidak pernah bekerja dengan waktu kurang dari 12 jam sehari. Sebenarnya jam kerja normal sich, 8 jam juga. Tapi masalahnya aku nggak pernah nggak overtime. Orang bilang tuntutan profesi, profesionalisme kerja, apapun bahasanya I don’t care. Intinya, besok Hari Raya Idul Adha. Hari Raya = Lebaran. Lebaran identik dengan malam takbir dan berkumpul bareng keluarga.
Hmmm... apa kamu pernah merasakan malam takbir tidak bersama keluargamu? Sebenarnya, Idul Fitri kemarin aku juga nggak di kampung sich. Tapi dari beberapa hari sebelumnya sampai malam takbir dan Shalat Ied aku udah di rumah om/tante yang berarti juga keluargaku. So, biarpun lebaran kemarin aku nggak di kampung, at least aku masih lebaran dan shalat bareng keluarga.
Besok? Nggak yakin dech. Kalau malam ini aja aku takbiran di office, berteman Memorandum of Agreement  and The Addenda, berarti besok juga nggak shalat bareng keluarga.
Seumur-umur, baru sekarang aku merayakan Iedul Adha tanpa keluarga. Rasanya, seperti apa ya? Manis, asem, asin, atau nano-nano? Bingung aku nerjemahinnya. Ada suatu kerinduan yang besar, saat acara lebaran bareng keluarga dulu kau anggap biasa saja, tiba-tiba sekarang menjadi suatu hal yang benar-benar kau inginkan. Gimana kabar orang tua, gimana kabar adikku, ibuku masak apa, dan lain-lain.
Bahkan sekarang, ketika tulisan ini kubuat, aku masih berkutat dengan pekerjaanku di depan PC. Kalau jam segini orang ngelembur sambil buka FB, aku sambil nulis di blog-ku aja.
Back to my post, sebelum Hari Raya, kalian pasti udah tahu kalau kita orang muslim, dianjurkan berpuasa. Ada sebuah Hadist, Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Mungkin aku tidak bisa bertemu keluarga yang di kampung, shalat nggak bareng keluarga di Jakarta. Somehow, setidaknya masih ada hal baik yang bisa dikerjakan. Bukankah Allah berfirman Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lah yang lebih baik baginya.” (Qs. al-Baqarah: 184).
Read more...

Pencopet

PICKPOCKET
Let's talk about pickpocket or "pencopet" in Bahasa.
gambar diambil dari sini

Ngomong-ngomong tentang pencopet, adakah yang pernah kecopetan? Well guys, aku baru saja mengalaminya. Kapan? tadi pagi tepatnya. Kenapa aku tahu? karena begitu turun dari Kopaja P20, aku langsung mengecek isi tasku dan aku baru tahu kalau ternyata dompetku menghilang dari list isi tas punggungku.

Have you ever thought how did I feel? Absolutely GALAU!!!!!!
Well guys, let's forget the money even it was too much for me. Ada barang penting such as KTP, SIM, ATM, ASKES, and so on yang ikut raib. But, kebetulan di dekat tempatku turun ada Pak Polisi yang kebetulan juga, cukup baik untuk nganter ke Kantor Polisi dan bikin laporan kehilangan. Yah... emang sich mereka gak akan ngapa-ngapain. Maksudku nggak ngapa-ngapain itu, they never do something better than say sorry because I'm still live in Indonesia. Do you think so? I think yes.

Tapi sebagaimana yang dikatakan orang bijak, yang lalu biarlah berlalu. Semua 'kan ada hikmahnya. Sejujurnya aku percaya kata-kata itu, meskipun pada prakteknya agak sulit untuk dijalankan. However, I always try. Karena yang harus dilakukan adalah ikhlaskan saja.... Dan ngomong-ngomong tentang mengikhlaskan, jika sesuatu yang tidak menyenangkan dianggap sebagai musibah, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa sebagaimana diriwayatkan Muslim:

Ų„ِنَّŲ§ Ł„ِŁ„َّهِ وَŲ„ِنَّŲ§ Ų„ِŁ„َيْهِ Ų±َŲ§Ų¬ِŲ¹ُوْنَ، Ų§َللَّهُŁ…َّ Ų£ُŲ¬ُŲ±ْنِيْ فِيْ Ł…ُŲµِيْŲØَŲŖِيْ وَŲ£َŲ®ْŁ„ِفْ Ł„ِيْ Ų®َيْŲ±ًŲ§ Ł…ِنْهَŲ§
 yang artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali (di hari Kiamat). Ya Allah! Berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku).”
Jadi, kalau orang seenaknya ngambil barang orang, bikin orang kerepotan, kepikiran, sedih, shock dan teman-temannya,  kaya' nggak ngerti rasanya lembur sampai malam, semua bisa diikhlaskan. Bukankah seseorang tidak akan diuji melebihi kemampuannya? dan, ketika seseorang diuji dengan kehilangan, kemudian mereka ikhlas, bukankah akan ada ganti yang lebih baik? Dan tentang pencopet itu, kata seorang teman anggap saja amal. Yah... mungkin dia memang membutuhkan. 

And for all of you guys, be careful on the way. Hopefully it was my first and my last to become a pickpocket victim. Begitulah belantara kota. Bikin nggak kerasan, tapi profesionalisme dan etika adalah hal yang harus dijunjung tinggi. This is the reason I'm still here.
Read more...

Thursday, September 20, 2012

Memori Tugas Akhir (Part II)

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya


Kembali lagi, aku melanjutkan curhatku tentang Tugas Akhir. Ehmm… special request sebenernya. Ngebosenin? I don’t care.:D
            Kemarin aku udah ngeshare abstrak Gak Jelas-ku. Jadi sekarang aku mau mengulas sedikit Tugas Akhir yang harus kuselesaikan dulu. Jadi, sebagaimana kenyataan dan realita bahwa kelulusan Tugas Akhir adalah salah satu persyaratan WISUDA, secara otomatis aku harus LULUS Sidang Tugas Akhir. Yeah… evenif di program studi yang kuambil bobot sidang terberat adalah pada Tugas Gambar sebagaimana posting sebelumnya, tapi Tugas Akhir juga penting.  But, mulai dari tahun kemarin ada sedikit perbedaan Tugas Akhir dengan sebelum-sebelumnya. Misalnya aja untuk Prodi Teknik Perancangan dan Konstruksi Kapal yang kuambil, bedanya kaya gini:
1.      Tahun-tahun sebelumnya, waktu pengerjaan dan sidang TA di Semester V. Sekarang Semester VI.
2.      Karena Semester VI ada tanggungan OJT (On The Job Training), maka materi/bidang yang diambil adalah permasalahan yang ditemukan dari tempat OJT yang (pastinya) relevan dengan bidang keilmuan kita. (Aku khan bidangnya Naval Architecture :D)
3.      Sekarang nama kerennya Field Project. Tapi kemarin aku masih pakai judul Tugas Akhir karena versi kerennya belum disahkan.:D:D
4.      Karena bareng sama OJT dan HARUS mengangkat permasalahan dari tempat OJT, kebayang donk gimana tantangannya. Apalagi tempat OJT-nya ky gini.




Karena hal-hal yang udah aku sebutin itu, maka ada beberapa kemudahan yang kita dapat yaitu….:
1.      Bobot TA, yang meliputi batasan masalah, konsultasi dengan dosen pembimbing, proses sidang dan penilaian lebih ringan dari sebelumnya.
2.      Waktu pengerjaan jadi lebih singkat. Kebanyakan mahasiswa mulai ngerjain TA-nya abis OJT.
3.      Beberapa hal yang nggak bisa dituliskan dengan kata-kata tapi bikin nilai jadi bagus.:D
Maaf saudara-saudara, karena saya jarang menulis, maka dengan terpaksa saya membuat cerita saya jadi curhatan panjang.:D
So… aku udah pernah nulis belum ya kalo aku praktek di sebuah galangan di Surabaya. Ceritanya, abis curhat sama Manager Engineering kalau kelompokku perlu beberapa permasalahan untuk diangkat, kita dikasih beberapa ide. Dan ide yang kuambil bisa dibilang cakupan ilmu yang harus dikuasai bidangku. Mulai dari desain, perhitungan matematis dan –yang paling bikin mahasiswa prodiku males ambil bidang ini- pengujian/analisa material.
Sedikit gambaran tentang TA-ku, sebagaimana yang udah pernah kupajang di abstrak, ini adalah tentang perencanaan penampang konstruksi penegar/stiffener agar didapatkan yang stiffener paling ringan dengan modulus yang hampir sama. Sedangkan sampel stiffener yang aku gunakan adalah angle bar (Profil L) tipe equal dan unequal, welded profile dan bending plate. BTW, sampelku sendiri penampangnya angle base, mirip-mirip huruf L gitu. Tipe kapal sebagai pertimbangan desain adalah Landing Craft Tank. Jadi ceritanya, dari perencanaan besar modulus stiffener yang dipakai di kapal itu, dicari profil lain dengan modulus yang sama. But, tipe ato dimensinya bisa beda. Goalnya, mendapatkan penampang dengan modulus yang mendekati perencanaan awal, tapi lebih ringan dari yang direncanakan. Sehingga analisa yang dipakai untuk menguji kelayakannya ada analisa matematis buat ngitung modulusnya satu-satu, analisa harga termasuk harga JO dan teman-temannya, analisa berat buat ngebandingin berat konstruksinya kalau udah dipasang di kapal dan analisa kekerasan material termasuk analisa struktur mikro-nya. Aku nulis kekerasan=hardness dan bukan violence. Both of them are absolutely different. Hehehehehe…. Lebih kurang kaya gitu lah content-nya TA-ku.
Kalau dipikir-pikir, namanya TA pasti pembimbingnya disesuaikan dengan bidang yang kita angkat donk. Jadi mending aku ceritain gimana proses dapat pembimbing. Soalnya kalau di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (Kampusku), meskipun udah ada koordinator yang mendistribusikan permasalahan yang diangkat mahasiswa ke dosen pembimbing, khan lebih enak kalau dapat dosen pembimbing yang T-O-P-B-G-T dan nyambung sama kita. BTW, aku udah pernah cerita khan kalo pembimbingku punya standar yang tinggi, dan bisa dibilang lebih tinggi dibanding dosen-dosen lain, terutama masalah kualitas penulisan TA. So… ini adalah step-by-step yang mungkin bisa kamu jadiin inspirasi (kalau kamu kuliah di kampusku. Hehehe...):D
1.      Ketemu calon dosen pembimbing
Semester sebelumnya (Semester V kalau aku) aku udah ketemu sama salah satu dosen yang mau kuminta jadi pembimbing. Setelah basa-basi bla bla bla dan bertanya permasalahan apa yang beliau suka untuk dijadiin TA, disesuaikan dengan tempat OJT-ku, trus aku curhat dech. Biar dikasih gambaran. Dari situ, aku bisa dapat pencerahan tentang apa yang harus kulakukan nanti dan permasalahan yang bisa kuangkat. Soalnya waktu itu aku juga masih blur gitu. Aku saranin jangan memaksakan diri untuk milih dosen pembimbing yang gak membidangi TA kamu meskipun kamu udah cocok banget sama beliau kaya bapak-anak.  
2.      Ngejalanin OJT
Aku agak malas cerita kondisi di sana. Yang pasti, yah.. kamu pasti tahu. Itu galangan kapal. Intinya di sana aku dapat pencerahan dari Manager Engineering untuk mengangkat permasalahan yang kuceritain itu.
3.      Bikin Proposal Tugas Akhir
Yeah… standart process. Sebelum bikin buku harus bikin proposal biar koordinator dan calon pembimbing ngerti maksud dari tema yang diambil. Gampang-gampang susah, yang penting bahasanya jelas dan nggak muter-muter.
4.      Ngirim Proposal Tugas Akhir ke Calon Pembimbing
Ini sebenarnya urutan yang gak seharusnya ada karena harusnya proposal langsung dikirim ke koordinator ;D. Setelah sebelumnya menghubungi calon-calon pembimbing dan menanyakan kesanggupan beliau, aku kirim dech proposalku ke mereka. Waktu itu, biarpun rata-rata calon pembimbing menyatakan bersedia, tapi ada yang gak menyarankan untuk melakukan uji material. Takut gak selesai katanya. :D but, ada juga calon pembimbing yang gak keberatan kalau aku pakai pengujian. Dan… dari beberapa calon pembimbing yang kukirimi proposal itu, semuanya menyarankan untuk mencalonkan nama pembimbingku yang sekarang.:D Apa cukup membingungkan? Maksudku, sebelum mengirim proposal ke Koordinator, aku memastikan calon pembimbingku bersedia jadi pembimbing TA-ku nantinya. Why? The reason was factor of lobbying.
5.      Ngirim Proposal Tugas Akhir ke Koordinator Tugas Akhir
Setelah dosen yang kumaksud mau dicalonin jadi pembimbing, baru dech kukirimin proposalnya ke Koordinator TA. Abis itu tinggal nunggu jawaban. Sekedar informasi, proposalku mendapat jawaban paling lama, bahkan saking lamanya sampai harus mengirim pesan personal untuk memastikan pembimbingku. Di sini, yang sedikit-banyak berpengaruh adalah lobbying :D. Soalnya, dosen pembimbingku udah bimbing buanyak mahasiswa. Hehehehe…
6.      Ngerjain Tugas Akhir
Setelah bersyukur berkali-kali, mengingat pembimbingku punya banyak fans dan bimbingannya buanyak banget barulah aku bisa ngerjain Tugas Akhir.

-----to be continued….
Read more...

Monday, August 27, 2012

Not in Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

AFTER HOLIDAY...

Pagi yang cerah....
Hari pertama kerja setelah libur lebaran yang nggak lama dan menggagalkan rencanaku pulang kampung. Well guys, untuk pertama kali dalam hidupku aku nggak lebaran di rumah. Kebayang wajah dad sama sista, pasti kangen banget sama aku. Seseorang bilang padaku beberapa waktu yang lalu, “Kalau aku jadi kamu, aku pasti pulang”. But I didn’t believe that. How come??? Orang dia aja pernah nggak pulang satu semester.
Sedikit kuceritakan, aku sudah nggak tinggal di rumah dari SMA. Jadi kalau ditotal dengan sekarang, lebih kurang enam tahunlah. Selama itu, aku nggak pernah ngalami home sick. Ya... semacam syndrome kangen rumah gitu. Tapi sepertinya sekarang aku mengalaminya. Kebayang nggak sich tinggal di Jakarta, tanpa kabar, orang tua di jawa, 15 jam perjalanan dari Jakarta.....
Ada yang bilang, yeah... this is what we call as life. Kadang kaupun harus dihadapkan pada pilihan yang sulit. Di satu sisi kau ingin dekat dengan teman dan keluarga. Di sisi lain, tuntutan profesi yang mengharuskan kamu berada di tempat lain yang jauh dari mereka harus dijalankan secara profesional. Maka.... dijalani dan disyukuri saja.

            Ngomong-ngomong soal lebaran nggak di kampung, sebenarnya nggak terlalu buruk sich... Kalau kau nggak bisa ketemu saudaramu di kampung, nggak bisa sungkem mom&dad, setidaknya, aku masih bisa sungkem auntie&uncle di sini. No main family is no problem. There will be another family.

            Those I’ve to say Thankz, thankz, and thankz to my God. Sekarang aku paham fungsi keluarga. Apa kau bisa membayangkan rasanya? Maksudku, rasanya punya tempat untuk pulang selain dunia 3x4(atau 3x3) yang kusebut kost-kostan, dan kau disambut sebagai bagian di dalamnya. Kemudian melakukan hal-hal rumahan yang sebenarnya melelahkan tapi juga menyenangkan dan bikin kangen. Kegiatan rumahan apa yang biasa kau lakukan dengan keluargamu? Memasak? Ngepel lantai? Nyuci baju? Aku kemarin memasak rendang, opor ayam, ketupat, sayur nangka....:D (lebaran style recipes). Aku bahkan ikut membuat kue semacam nastar, kastengal, kacang goreng sampai lidah kucing. Sejujurnya, aku nggak pernah bikin cookies di rumahku sendiri. Well, kita beli. Nggak bikin. “Jika kamu kecewa karena kehilangan moment berharga dengan orang-orang yang kau harapkan, kamu akan mendapatkan momen berharga di tempat lain –kalau kamu sabar dan bersyukur”.
 So, mari kita mulai pagi dengan semangat, lanjutkan mengerjakan tugas verifikasi yang.... OMG Buanyak banget. Yah... disyukuri saja lah...



 Well, let's start the morning with bismillah...
Read more...

Sunday, June 17, 2012

Sebuah Tanya, Sepenggal Cerita, Sebutir Jerawat

Still in Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Sebuah Tanya, Sepenggal Cerita, Sebutir Jerawat

 
Sebuah tanya. Kenapa waktu berjalan begitu cepat. Atau mungkin pertanyaan yang lain, Kenapa aku tidak bisa secepat waktu.Seakan baru kemarin aku berpakaian hitam putih lengkap dengan dasi san dandanan super formal, kemudian say hello ke Graha ITS. Waktu itu, penyambutan Mahasiswa Baru. 

Tapi yang kurasa baru kemarin itu, ternyata telah terjadi 3 tahun yang lalu. Kemudian dalam selang waktu yang tak lama, seakan baru kemarin, aku pun berpakaian seperti itu. Baju putih, rok hitam, such a formal stuff. Kemudian menuju ruang eksekusi. Di ruang itu, gambarku yang pada dasarnya sudah tidak bernyawa, dibantai habis-habisan. Aku mungkin cukup kuat menjadi saksi tidak bisu atas pembantaian terang-terangan pada gambar-gambarku. Setidaknya, aku masih bisa tersenyum ketika para eksekutor tidak cukup puas membantai gambarku, kemudian menyerangku dengan pertanyaan bertubi-tubi. Tapi, beberapa orang yang berhati lembut tentu saja tidak tega melihat gambar-gambarnya dibantai begitu saja. Maka aku pun harus menjadi saksi tidak bisu lagi ketika seseorang yang biasa membuat aku dan teman-temanku tertawa, menitikkan air mata kesedihan atas bencana yang dialami gambarnya. Sebuah kejadian yang terlihat kejam, namun dilegalkan dan bahkan diharuskan dengan label Sidang Tugas Gambar. Sebuah kenangan indah tentang kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan dengan teman-temanku, namun itu tlah berlalu setengah tahun lalu.

Kini, sebentar lagi, aku harus memakai setelan itu lagi. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Itu bukanlah tentang acara bantai-membantai yang berlabel Sidang Tugas Akhir. Bukan pula sebuah pengujian tentang seberapa besar hasrat yang kupendam, dan direpresentasikan oleh sebuah jerawat di mukaku. Karena sesungguhnya aku tidak yakin pada korelasi jerawatku dan keinginan terpendam yang dengan terperinci dituliskan dosen pembimbingku dalam hipotesanya. Tapi begitu sidang itu berakhir, dan terbentuk buku dengan sampul hardcover berwarna biru imut-imu, maka akan segera datang waktu yang kusebut perpisahan. Padahal seolah baru kemarin aku berkutat dengan spesimen, memotret material dari berbagai sudut pandang dan berbagai pose. Tentu saja semua itu tak lepas dari jasa pembimbingku yang mengajarkan berbagai metode penghitungan, pengujian dan per-lobian. Mungkin sebutir jerawat yang sekarang sudah hampir lenyap dari mukaku tidak akan mampu menggambarkan apa yang kulakukan dan besarnya jasa dosen pembimbingku. Yang kutahu pasti, kini aku masih harus merevisi tulisanku, dan menerjemahkan tulisan Om Callister ke dalam bahasa manusia. Jadi, sebuah doa yang kusisipkan disini, agar bukuku cepat selesai. Amien....
Read more...